Detail Buku
Sinopsis
Di dunia yang bergerak serba cepat, keberhasilan kita sering kali didikte oleh angka-angka digital: pergerakan saham, inflasi global, hingga naik-turunnya kurs mata uang asing. Kita dipaksa berlari dalam kompetisi tanpa akhir (the hedonic treadmill), mengejar standar kemakmuran yang diciptakan oleh tren modern. Namun, apakah semua kepanikan dan ambisi itu benar-benar membawa kita pada kebahagiaan sejati?
Buku ini mengajak kita menepi sejenak ke sebuah desa kecil di lereng bukit—tempat di mana kehidupan tidak diukur dengan lembaran dolar, melainkan dengan hijaunya hamparan padi dan eratnya ikatan persaudaraan. Melalui kisah hidup Kang Sutedjo dan masyarakat desa yang bersahaja, penulis memotret sebuah realitas yang radikal: bahwa kedaulatan atas rasa cukup jauh lebih bernilai daripada tumpukan materi yang tak pernah memuaskan ego.
Dengan gaya tutur yang hangat, reflektif, dan penuh humor khas pedesaan, Baskara Setyawan mengupas bagaimana sistem "barter sosial" dan keterikatan dengan alam mampu menciptakan jaring pengaman jiwa yang kokoh. Saat orang kota cemas akan krisis ekonomi global, orang desa justru melangkah ke kebun belakang, memetik hasil bumi dengan tenang tanpa beban cicilan.
Tanpa Dolar, Tanpa Kejar bukanlah sebuah ajakan untuk mundur dari kemajuan atau merayakan kemiskinan. Buku ini adalah manifesto bagi siapa saja yang lelah dengan hiruk-pikuk modernitas; sebuah panduan untuk pulang menemukan kedamaian pikiran, menyederhanakan keinginan, dan mendefinisikan ulang arti "sukses" dari sudut pandang yang paling murni: hati yang penuh rasa syukur.
Mata uang tertinggi di dunia ini bukanlah uang kertas, melainkan ketenangan saat kepala menyentuh bantal di malam hari.
#testing v1
Harga Satuan
Ulasan Pembaca
Penilaian pembaca untuk buku ini.
Belum ada ulasan untuk buku ini.
Jadi pembaca pertama yang memberi rating dan komentar.